June 13, 2011
Asal dan Arti Nama Bogor

Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuh (Di tempat itu, dirikanlah oleh mu sebuah kota) laju ngaranan Bogor (lalu bernama Bogor) sabab bogor teh hartina tunggul kaung (bogor artinya tunggul aren/enau, tunggul=sisa tebangan pohon beserta akarnya)

Ari tunggul kaung (Tunggul aren itu) emang geh euweuh hartina (memang tak ada artinya) euweuh soteh cek nu teu ngarti (Tak ada arti bagi yang tidak mengerti)
Ari sababna, sabab ngaran mudu Bogor (sebab nama mudu Bogor) sabab bogor mah (sebab bogor itu) dijieun suluh teu daek hurung (dibuat kayu bakar tak mau membara) teu melepes tapi ngelun (tak padam tapi menyala yang tidak membara) haseupna teu mahi dipake muput (asapnya tak cukup untuk “muput”) (muput=menghasilkan asap banyak yang salah satunya digunakan untuk mengusir nyamuk atau serangga lainnya)

Tapi amun dijieun tetengger (Tapi kalau dijadikan penyangga rumah) sanggem nungkulan windu kuat milangan mangsa (dua kalimat ini menunjukan ungkapan yang arti bebasnya “bisa bertahan lama”. Mirip seperi ungkapan “tak lapuk kena hujan, tak lekang kena panas)
Amun kadupak (kalau terpentok) mantak borok nu ngadupakna (bisa membuat luka/koreng yang terpentok) moal geuwat cageur tah inyana (membuat luka/koreng yang lama sembuhnya)

Amun katajong? (kalau tertendang?) mantak bohak nu najongna (bisa melukai yang mendangnya) moal geuwat waras tah cokorna (kakinya bakalan lama sembuhnya)
Amun dijieun kekesed? (Tapi, kalau dibuat kesed?) sing nyaraho (harap semuanya tahu) isukan jaga pageto (besok atau lusa) bakal harudang pating kodongkang (bakal bangkit sambil merangkak (?)) nu ngarawah si calutak (menasehati yang tidak sopan)
Tah kitu! (begitulah) ngaranan ku andika eta dayeuh (berinama oleh mu itu kota) Dayeuh Bogor! (Kota Bogor). Pantun Pa Cilong. “Ngadegna Dayeuh Pajajaran”(berdirinya kota Pajajaran)

Pantun di atas menjadi dasar yang paling kuat tentang kenapa nama kota itu dinamakan “Bogor”. Seperti diketahui sampai saat ini ada empat pendapat tentang asal nama Bogor:

  1. Berasal dari salah ucap orang Sunda untuk “Buitenzorg” yaitu nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda
  2. Berasal dari “Baghar atau baqar” yang berarti sapi karena di dalam Kebun Raya ada sebuah patung sapi.
  3. Berasal dari kata “Bokor” yaitu sejenis bakul logam tanpa alasan yang jelas
  4. Asli bernama Bogor yang artinya “tunggul kawung” (enau atau aren)

Pendapat bahwa Bogor berasal dari “buitenzorg” adalah dugaan intelek yang mengira lidah orang Sunda sedemikian kakunya dengan mengambil perumpaman melesetnya “Batavia” menjadi “Batawi”. Akan tetapi bila kita perhatikan bagaimana orang Sunda mengucapkan “sikenhes” untuk “ziekenhuis” (rumah sakit” atau “bes” untuk “buis” (pipa) atau “boreh” untuk “boreg” (jaminan), maka berdasarkan gejala bahasa tersebut, seharusnya orang sunda melafalkan “buitenzorg” menjadi “betensoreh”. Jadi dugaan “buitenzorg” menjadi Bogor terlalu dikira-kira.

Pendapat kedua (“baghar atau baqar”) berdasarkan kenyataan adanya pengaruh bahasa Arab di daerah sekitar Pekojan. Orang Sunda akrab dengan bahasa Arab lewat agama Islam, akan tetapi belum pernah ada bunyi BA dari bahasa Arab menjadi BO. Selain itu, dugaannya mengandung kelemahan dari segi urutn waktu. Kata Bogor telah ada sebelum kebun raya dibuat, sedangkan arca sapi itu berasal dari kolam kuno Kotabatu yang dipindahkan ke dalam kebun raya oleh Dr. Frideriech dalam pertengahan abad 19.
Pendapat ketiga (asal kata “bokor”) juga mengandung kelemahan karena bokor itu sendiri adalah kata Sunda asli yang keasliannya cukup terjamin. Meskipun demikian, perubahan bunyi “K” menjadi “G” tanpa menimbulkan perubahan arti dapat ditemui pada kata “kumasep” dan “angkeuhan” yang sering diucapkan menjadi “gumasep” (merasa cakep/centil) dan “anggeuhan” (saya harus tanya orang tua dulu nich artinya :-)). Jadi bisa saja Bogor memang berasal dari Bokor. Akan tetapi, tak ada seorangpun yang biasa mengartikan “Bogor” sama dengan “bokor”.

Pendapat keempat kita temukan dalam pantun Bogor yang sudah disebutkan diawal posting. Dalam lakon itu dikemukakan bahwa kata “bogor” berarti “tunggul kawung”. Keadaan yang sama dapat ditemui pada nama tempat “Tunggilis” yang terletak di tepi jalan antara Cileungsi dengan Jonggol. Kata “tunggilis” berarti tunggul pinang yang secara kiasan diartikan menyendiri atau hidup sebatang kara.

Di Jawa Barat banyak tempat bernama Bogor, seperti yang bisa ditemukan di Sumedang dan Garut. Demikian pula di Jawa Tengah berdasar catatan Prof. Veth dalam buku “Java”. Dengan demikian memang agak sulit menerima terori “buitenzorg”, “baghar” dan “bokor”.

Bogor selain berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon kawung yang biasa diajdikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa “Bogor” berati pohon kawung dan kata kerja “dibogor” berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, “pabogoran” berarti kebun kaeung. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, ?L”Bogor” berarti “droogetapte kawoeng” (pohon enau yang telah habis disadap) atau “bladerlooze en taklooze boom” (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata “pugur” atau “pogor”. Akan tetapi dalam bahasa Sunda “muguran dengan “mogoran” berbeda arti. Yang pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti “pamogoran” bisa dianggap terlalu iseng.

Nama Bogor dapat ditemui pada sebuah dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut tercantum nama Ngabei Raksacandra sebagai “hoofd van de negorij Bogor” (kepala kampung Bogor). Dalam tahun tersebut ibukota Kabupaten Bogor masih berkedudukan di Tanah Baru. Dua tahun kemudian, Bupati Demang Wirnata mengajukan permohonan kepada Gubernur Jacob Mossel agar diizinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati di dekat “Buitenzorg”. Kelak karena di depan rumah Bupati Bogor tersebut terdapat sebuah kolam besar (empang), maka nama “Sukahati” diganti menjadi “Empang”.

Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun 1817 sehingga teori “arca sapi” tidak dapat diterima sebagai asal-usul nama Bogor. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya ada pada lokasi tanaman kaktus. Pasar yang didirikan pada lokasi kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor (papan nama “Pasar Baru Bogor” sebenarnya agak mengganggu rangkaian historis ini)
 

http://www.arsip.kotabogor.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=92&Itemid=32

February 15, 2011
"Trust but verify"

— Ronald Reagan

February 7, 2011
Eropa titik tolak peradaban modern

Peradaban dimana kita hidup ini sering disebut sebagai peradaban modern. Menurut kamus elektronik Merrian-Webster, kata “modern” berasal dari bahasa latin “modernus”. Kata ini berasal dari kata “modo”. Kata “modernus” berarti “bahwa sekarang adalah”, sedangkan kata “modo” berarti “dengan cara”. Kata latin ini kemudian menjadi kata “modern” sebelum tahun 1585 untuk mendeskripsikan awal suatu era baru.

Perabadaban modern awal meliputi seluruh era Rennaisance. “Rennaisance” berarti kelahiran kembali. Disebut demikian karena pada awal peradaban modern tersebut terjadi kelahiran kembali pemikiran-pemikiran dan bahkan kebudayaan Eropa kuno saat sedang mencapai puncak kejayaan di bawah Yunani dan Rumawi. Awal gerakan rennaisance adalah penterjemahan kembali buku-buku Yunani dan Rumawi kuno yang diawali oleh Giovanni Boccaccio dan Francesco Petrarch. Tema sentral gerakan ini adalah humanisme, pencarian aktif ilmu pengetahuan dan bukan hanya menerima apa yang ada saja, dan keyakinan terhadap cita-cita republik.[1] Gerakan “Rennaisance” ini berawal di Florence Italia, berlangsung antara tahun 1400-1600 Masehi[2]. Karena renaissance bermula dari Italia (Eropa), sedangkan renaissance adalah awal peradaban modern[3], maka Eropa merupakan titik-tolak awal sejarah perkembangan peradaban modern. Indikasi sederhananya, kata “modern” itu sendiri berasal dari bahasa latin, bahasa asli Eropa sejak sekitar tahun 1000 SM.

Pada jaman rennaisance, buku-buku IPTEK banyak yang diterbitkan dalam bahasa masyarakat lokal, sedangkan pada abad pertengahan, buku-buku IPTEK diterbitkan dalam bahasa Latin dan bahasa Yunani sebagai bahasa ilmiah dan bahasa akademis. Penulisan dan penterjemahan teks-teks bahasa Latin dan bahasa Yunani ke dalam bahasa lokal memasyarakatkan IPTEK. Perembesan buku hingga level akar rumput terjadi dengan cepat seiring dengan pemberantasan buta huruf di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Pada gilirannya, hal ini mengakibatkan munculnya para penemu, penulis buku, pemikir, para ahli berbagai bidang dari golongan rakyat jelata.

Meskipun telah banyak yang dialihbahasakan ke bahasa lokal, namun jejak bahasa latin dan bahasa Yunani sebagai bahasa iptek jaman pra-modern dan jaman modern dapat kita lihat.

Contoh:

1. Penggunaan bahasa latin dalam biologi

Pada abad pertengahan, ilmu biologi telah berkembang dalam sekolah-sekolah yang disebut gimnasium dengan bahasa pengantar adalah bahasa latin. Ketika memasuki jaman modern, bahasa pengantar ilmu biologi berubah menjadi bahasa lokal, tapi bahasa latin masih tetap digunakan dalam penamaan seluruh makhluk hidup di seluruh dunia. Biologi kuno adalah cabang dari filsafat alam Aristoteles dari Yunani (Eropa). Bahasa latin masih digunakan sebagai bahasa pengantar buku-buku ilmu biologi hingga abad ke-18.

2. Penggunaan bahasa Yunani dalam penamaan ilmu secara umum

Contoh:

- Zoologi: “Zoo” (hewan) + “Logos” (Ilmu)

- Filsafat: “Philia” (cinta) + “Sophia” (hikmat, kebijaksanaan)

- Biologi: “Bios” (kehidupan) + “Logos” (Ilmu)

3. Penggunaan huruf-huruf Yunani dalam Fisika dan Kimia

Fisika dan kimia adalah cabang filsafat alam dalam filsafat Aristoteles dari Yunani (Eropa). Ilmu-ilmu ini populer pada jaman rennaisance seiring peningkatan popularitas buku-buku Yunani kuno dalam jaman rennaisance yang menandai jaman modern.

Kelompok masyarakat yang mencetuskan dan mendorong terjadinya rennaisance adalah golongan wirausahawan atau pedagang besar. Keluarga besar Italia yang dikenal terlibat dalam mengawali renaissance adalah keluarga besar Medici. Mereka membutuhkan banyak pekerja cerdas untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi agar menang bersaing dari kompetitor mereka. Hal itu mengakibatkan mereka mencari orang-orang pintar sebagai pekerja dengan upah yang lebih tinggi daripada pekerja yang tak berpendidikan. Permintaan terhadap pekerja cerdas mendorong masyarakat untuk belajar, agar memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik. Kebutuhan para wirausahawan terhadap kualitas pekerja yang bermutu menumbuhkan permintaan akan pendidikan, sehingga pendidikan tersebar ke masyarakat luas.

Reformasi Martin Luther turut mempercepat proses ini dengan membawa pendidikan ke tengah-tengah rakyat jelata, sebab mereka punya idealisme bahwa setiap orang harus bisa membaca sendiri, dan untuk itu, maka pengajaran menulis huruf latin dan pelajaran membaca bagi rakyat jelata jadi sangat ditekankan. Idealisme ini mempengaruhi gerakan rennaisance dan bahkan nantinya mempengaruhi jaman modern.

Setelah memasuki jaman modern, IPTEK Eropa berkembang dengan sangat pesat. Ini mengakibatkan peningkatan kekuatan negara-negara Eropa. Ungkapan terkenal jaman renaissance yang menggambarkan pandangan masyarakat Eropa terhadap pengetahuan dirumuskan oleh Sir Francis Bacon (1561 - 1626) dalam bukunya “Religious Meditations, Of Heresies” yang terbit pada tahun 1597, yaitu: “Knowledge is Power” (Pengetahuan adalah kekuatan). Penguasaan IPTEK mendatangkan kekuatan. Hal ini disadari betul oleh negara-negara Eropa pada jaman modern.

Penguasaan IPTEK di bidang militer menghasilkan kekuatan militer. Ketika lawan-lawannya masih menggunakan pedang, negara-negara Eropa telah menggunakan pistol, senapan, dan meriam. Keunggulan militer membuat mereka mempunyai kekuatan untuk menguasai daerah-daerah yang tertinggal dalam bidang IPTEK, semisal kerajaan-kerajaan di Nusantara ini. Kalah di bidang IPTEK mengakibatkan Nusantara kuno jatuh terjajah ke dalam tangan Eropa yang mempunyai kekuatan IPTEK yang lebih unggul.

Penguasaan IPTEK di bidang manufaktur menghasilkan kekuatan produksi. Dengan biaya yang lebih murah, menghasilkan produksi yang lebih banyak dan berkualitas lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat. Kekuataan ekonomi negara-negara yang telah memasuki jaman modern membuat negara-negara lain yang terdesak oleh mereka jadi turut masuk jaman modern pula, baik secara sukarela ataupun dengan terpaksa.

Misal, pemerintah Ottoman Turki yang bertahan menolak modernisasi pada akhirnya dikondisikan untuk masuk jaman modern. Ini dapat dilihat dalam bidang percetakan. Hingga tahun 1450 Masehi, pemerintah Ottoman Turki masih mengikuti fatwa haram kaum ulama yang mengharamkan penggunaan mesin cetak. Mesin cetak disebut sebagai “Temuan setan”. Akibatnya, buku-buku terbitan warga atau pun pemerintah Ottoman kalah bersaing dengan buku-buku dari Eropa yang dicetak dengan mesin cetak. Harga buku-buku Eropa ini lebih murah dan diproduksi masal dengan jumlah yang jauh lebih banyak, sebab diproduksi menggunakan mesin. Turki tertinggal jauh karena masih memproduksi buku dengan disalin tangan. Agar tak tertinggal, akhirnya mesin cetak diijinkan di Turki. Tapi itupun didirikan oleh orang-orang Yahudi, karena mereka tidak menuruti fatwa ulama Turki itu. Modernisasi Turki dibidang percetakan dipelopori oleh orang-orang Yahudi Sefardik pada tahun 1450 Masehi[4]. Tapi percetakan ini dilarang untuk mencetak buku-buku berbahasa Turki dan Arab. Jika melihat buta huruf menyebar di kalangan masyarakat Turki hingga abad 18, sebenarnya pemerintah Ottoman tidak perlu takut dengan mesin cetak. Percetakan Turki baru ada tahun 1729, ditutup tahun 1742, dan dibuka lagi tahun 1784 dengan sensor ketat pemerintah.[5]

Prinsip “Knowledge is power” jaman renaissance masih terus dipegang oleh peradaban modern. Ini bukan hanya dilakukan oleh negara, tapi juga oleh aktor non-negara, seperti Google, inc. Sebagai penyedia layanan mesin pencari online, google mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk mengarahkan informasi yang akan dibaca pembaca. Pengakuan akan kekuatan Google datang saat Barack Obama yang didukung Google menang. Penguasaan IPTEK oleh Google menghasilkan kekuatan politik dalam tubuh pemerintahan Barack Obama.

Ketika Google berkonfrontasi dengan Cina, Google tidak kalah oleh tekanan Cina. Blokir yang diterapkan pemerintah Cina terhadap google tidak mempan karena ada teknologi anti blokir. Jika Cina saja tidak mampu memblokir internet, maka diragukan Indonesia mampu memblokir internet. Faktanya, blokir yang Indonesia terapkan tak ada artinya bagi netter yang melek teknologi.

Kekuatan IPTEK internet untuk menguasai dunia juga dipegang oleh Amerika, sebab internet diciptakan, dikembangkan, dan dimiliki oleh Pentagon Amerika dengan backbone yang juga berada di Amerika. Setiap informasi via internet pasti terdeteksi Amerika. “Internet adalah milik bersama” hanyalah jargon kosong. Penetrasi internet ke setiap kantor, rumah, dan setiap bagian masyarakat memungkinkan pemerintah Amerika untuk mengumpulkan informasi (pengetahuan) hingga level individu, terlebih saat ini setiap individu punya internet dalam telepon genggam dan komputer pribadi.

Prinsip “Knowledge is Power” yang lahir pada jaman Rennaisance dan yang mengawali jaman modern benar-benar diterapkan dalam negara-negara modern sedunia. Ini pun mengindikasikan bahwa titik tolak jaman modern adalah Eropa


[1] http://encyclopedia.farlex.com/Early+modern+%28renaissance%29 27 Desember 2010 15:53

[2] Brotton, Jerry. The Renaissance: A Very Short Introduction. 2006

[3]The Renaissance had fairly begun in the early part of the fifteenth century, and from the standpoint of general history the beginning of the Renaissance was the beginning of modern times.http://www.oldandsold.com/articles34/renaissance-art-1.shtml 27 Desember 2010 16:55

[4] http://courses.washington.edu/otap/archive/data/arch_inf/info_en/history_eng.html 27 Desember 2010 17:39

[5] http://www.mideastweb.org/Middle-East-Encyclopedia/ottoman.htm 27 Desember 2010 18:45

February 7, 2011
Berdiri diatas Kaki Sendiri

Istilah ketahanan pangan di negeri kita mulai dipertanyakan. Pakar-pakar yang katanya mengusung ekonomi kerakyatan mulai menyoal ide ini. DR. Rizal Ramli misalnya, memaparkan yang paling penting bukanlah ketersediaan pangan secara mencukupi seperti yang dimaksud dalam frasa ketahanan pangan. Beliau mengutip pandangan populer di kalangan akademisi pertanian bahwa yang terpenting adalah kedaulatan pangan, dalam arti kita juga berkuasa dan mandiri untuk mengatur kecukupan sendiri. Menurutnya pengadaan pangan yang sangat tergantung pada impor dan subsisidi seperti ini adalah bom waktu menuju ketakmampuan pangan.Jauh sebelum para pakar itu menggagas ide ini, Bung Karno tampaknya sudah mengerti perbedaan filosofis dan praktis antara “sekedar meperoleh” dengan “berdaulat”. Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, demikian beliau mengungkap cita-cita luhurnya akan kedaulatan. Tidak hanya untuk pangan, bahkan untuk banyak hal lain yang merangsang kemajuan bangsa. Pameo berdikari itu diungkapkannya selepas Indonesia baru saja membuka satu blok penambangan minyak bumi dengan bantuan tenaga ahli Amerika Serikat. Saat itu ditanyakan, mengapa tidak segera membuka blok lainnya. Mengingat harga minyak bumi yang cukup tinggi dan ladang minyak yang melimpah, tawaran ini tentu masuk akal dan menggiurkan. Namun jawaban beliau tegas dan jelas : “Tunggu sampai sarjana-sarjana kita bisa menambangnya sendiri.”

Apa yang terjadi sekarang di negara-negara berkembang memang nampaknya jauh dari cita-cita luhur seorang pemimpin seperti Bung Karno. Keterdesakan kebutuhan memang sering memaksa pemimpin negara untuk menjauhkan kebijakannya dari kemandirian. Kaki negara-negara ini nampaknya terlalu lunglai untuk menopang apalagi untuk melangkah.

Namun ide tadi sebenarnya memberi sudut pandang yang tajam untuk menyelesaikan masalah-masalah di negara berkembang. Tidak cukup hanya proteksi dan subsidi agar bertahan, diperlukan mengembangkan kemandirian dan kedaulatan untuk maju. Wacana filosofis ini menantikan aplikasi guna memberikan pembenaran empiris atasnya. Apa yang dilakukan di Iran dan Bolivia mungkin mencoba untuk menjawabnya. Namun mari juga melihat pencoba-pencoba yang lebih tua seperti Kuba, Korea Utara, Myanmar dan Libyia yang patut dipertanyakan adakah kedaulatannya menjadi kemajuan.

February 7, 2011
Tangan - tangan tak terlihat

Begawan ekonomi klasik Adam Smith beberapa kali mengulang frasa “tangan-tangan tak terlihat” untuk menggambarkan suatu kekuatan yang menggerakkan sistem yang kompleks. Tidak hanya dalam The Wealth of Nations, frasa analogis ini juga telah dipakai dalam karyanya Theory of Moral Sentimens dan History of Astronomy. Smith memandang tangan tak terlihat itu sebagai kekuatan besar yang mengatur ketakteraturan. Terlepas berupa apa tangan itu, Smith hanya mengungkap kemisteriusannya.

Meski sebenarnya bisa diterapkan di luar ranah ekonomi, seperti dilakukan sendiri oleh Smith, namun analogi tangan tak terlihat ini tampaknya benar-benar digandrungi dalam ilmu ekonomi, terutama ekonomi modern. Bahkan menurut Donald Whinch, keyakinan akan aksioma tangan tak kelihatan inilah salah satu landasan yang menjadikan ekonomi bisa berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri. Penggagas ekonomi yang percaya bahwa pasar bebas tidak mungkin diatur oleh satu pihak tertentu, akan meyakini adanya sekumpulan hukum-hukum yang berlaku dalam pasar bebas tersebut. Pandangan inilah yang memungkinkan munculnya kajian prinsip-prinsip ontologis dan epistemologis ilmu ekonomi. Lebih jauh lagi pandangan inilah yang membukakan kemungkinan, negara-negara maju mau menjajal sistem berpikir yang diajukan Smith, walhasil menjadi laboratorium besar untuk kajian ekonomi. Belakangan bukan hanya negara-negara maju yang disebut liberalis itu, negara-negara sosialis pun mengembangkan disiplin ekonomi sendiri. Namun, sebagaimana James Bunchan paparkan dalam The Authentic Adam Smith, ekonomi Marxis-Sosialis ini pun tetap berangkat dari asumsi Smith tertebut.

Dampaknya memang unik. Boleh saja ekonomi Marxis dan Kapitalis beradu pendapat sengit dalam tataran ideologis dan akademis. Bahkan boleh saja sistem-sistem ekonomi lain dimunculkan sebagai alternatif. Namun pada kenyataannya kita bisa melihat peran tangan tak terlihat itu mengatur perekonomian dunia. Boleh saja sistem ekonomi tiap negara berbeda, tapi produk-produk mereka, yang dibentuk dan dilemparkan dari sistem ekonominya cepat atau lambat, langsung atau tidak, terpaksa atau tidak akan beradu di pasar yang bebas. Penduduk mereka, yang berpikir dan dicekoki pemikiran tentang sistem ekonomi ideal bahkan banyak yang fanatik akannya, tetap turut memproduksi dan mengonsumsi produk-produk tadi.

February 7, 2011
Perut dan Tentara

“Tentara saya berperang dengan perutnya (Napoleon Bonaparte)”

Idealnya aksiologi dari ilmu kemiliteran semata-mata adalah kepentingan dan prinsip-prinsip bela negara. Namun jika meninjau pernyataan Napoleon Bonaparte, tokoh besar militer Perancis, sembari kita melihat berbagai peristiwa revolusi militer, tampaknya kita perlu berpikir kembali. Beberapa fakta sejarah memang menunjukkan peran militer yang sudah mulai mengusung kebutuhan dan kepentingannya sendiri. Tidak jauh-jauh, Thailand dan Myanmar sudah menunjukkan pengaruh militer yang sudah sedemikian jauh menafsirkan aspek aksiogis negara itu sampai kekedalam sendi-sendi pemerintahan.

Ilmu kemiliteran memang sangat kompleks karena melibatkan begitu banyak disipilin ilmu dalam mengaplikasikannya di lapangan. Mulai dari disiplin ilmu yang sifatnya sangat teknis hingga yang begitu filosofis. Tak berlebihan jika para punggawa militer selalu sesumbar saat menjelaskan mengapa pemimpin militer disebut jenderal (dari kata general yang berarti umum, luas). Menurut adagium mereka, hal itu dikarenakan mereka menguasai dan menggunakan prinsip-prinsip berbagai bidang ilmu.

Dalam menggelontorkan teorinya tentang ketakpastian, pakar ilmu peluang DR. Nassim Nicholas Talleb juga memuji pemikiran kaum militer. Pengarang The Black Swan ini menilai kaum militer adalah orang-orang yang sangat menghargai ketakpastian. Kaum militer begitu bergantung pada pendekatan empirik dan hanya menggunakan metode-metode yang benar-benar teruji. Panduan mereka, kata Talleb, adalah Sextus Empiricus (filsuf kedokteran asal Aleksandria penganut pendekatan empiris yang banyak mengkritisi pandangan ala Plato). Mereka sering skeptis terhadap teori-teori meja, apalagi yang sudah terlalu sering dan sering mengambil asumsinya sendiri.Mereka juga tidak pernah percaya mentah-mentah ramalan-ramalan ilmiah sehingga selalu menyiapkan alternatif jika ramalan itu gagal.

Pujian yang agak berlebihan ini memang memberi alasan mengapa ilmu kemiliteran menjadi tulang punggung kekuatan suatu negara. Meski demikian sering jadi perdebatan apakah penggunaan dan pengguna aspek keilmuannya memang terbatas. Perbedaan pandangan di berbagai negara tentang perlunya wajib militer, boleh tidaknya prajurit berpolitik dan siapa yang harus dibela nampaknya adalah imbas perbedaan pandangan tersebut. Kita patut mepertanyakan lagi kebenaran aksilogi “bela negara” sebagai aksiologi semata wayang ilmu kemiliteran ini. Mungkinkah perlu ditambah kata-kata “dan perut” pada adagium “bela negara”?

ini sebenarnya merupakan tugas filsafat ilmu saya, untuk link aslinya ada disini :

http://www.facebook.com/?ref=home#!/topic.php?uid=116780403437&topic=16863&post=100316#post100316

February 7, 2011
Gaul di Jejaring Sosial

Bahasa Indonesia sudah memiliki terjemahan longgar untuk kata “slang”, dalam Bahasa Inggris. Istilah “gaul” sudah mulai mencuat sejak awal 2000-an dan lama kelamaan menunjukkan padananannya dengan slang. Kesamaan ini sebenarnya lebih merupakan kemiripan gejala sosial mengingat kata itu sama-sama dipakai untuk menyebut satu komunitas anak muda yang dipengaruhi oleh kemajuan zaman sehingga mendobrak nilai-nilai yang lazim di masyarakat asalnya. Jadi lebih ke pendekatan yang sifatnya homologis. Meski demikian, kata gaul sebagaimana slang tadi, tetap memiliki batasan yang terlalu nisbi. Gaya dan corak komunitas gaul awal 2000-an, tentu tidak sama dengan periode kini. Nilai-nilai yang diusung pun berbeda. Perbedaan terbesar menyangkut peranan tekonologi dalam memfasilitasi perkembangan sikap yang mereka nilai sebagai “gaul”.Adanya situs jejaring sosial memang menjadi sebuah revolusi baru dalam perkembangan pemuda gaul. Batasan-batasan yang dulu dikekang keterbatasan penyampaian informasi antar negara kini bisa dengan mudah dilewati. Anak muda gaul ini bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai teman yang menurutnya sama-sama gaul dibelahan dunia manapun. Ada perubahan defenisi yang drastis dalam berbagai hal-hal yang menyangkut sikap hidup dan nilai-nilai. Sekedar memberi contoh kata komunikasi, interaksi, relasi, dan bahkan pemasaran (marketing), adalah kata-kata yang perlu ditera ulang pengertiannya jika diperhadapkan pada fenomena penggunaan situs jejaring sosial ini.

Namun yang paling direpotkan oleh perubahan besar seperti ini adalah kajian etika. Filsuf modern sempat percaya bahwa etika itu memang bersifat universal ada suatu sunnum bonum (kebaikan yang tertinggi) yang dianut oleh manusia, sedangkan etiket yang adalah perwujudan lokal dari etika tentu berbeda-beda tergantung sistem yang dianut oleh masyarakat di tiap tempat. Anak-anak gaul dalam jejaring sosial ini pasti telah banyak melabrak etiket. Tapi apakah hanya sebatas itu saja? Benarkah sunnum bonum itu masih ada di mereka? Ataukah memang sudah ada pijakan etika yang baru? Sebagian pakar komunikasi masih optimistik melihat hal itu dan menoleh pada begitu banyaknya penggunaan jejaring sosial untuk kemajuan dan membuka keran untuk toleransi mencegah pengotak-ngotakan. Tapi di sisi lain banyak juga yang ragu mengingat perangkat yang sama juga semakin banyak dipakai untuk menyebarkan ide-ide yang merusak sunnum bonum itu.

*sebenarnya ini adalah tugas filsafat saya yang saya tulis di Bandung School discussion Board, tapi saya juga ingin mengsharenya disini untuk sekedar berbagi ilmu

http://www.facebook.com/topic.php?uid=116780403437&topic=16619

 

March 19, 2010
Kau tak butuh pelangi lagi untuk menyadari bahwa dunia itu memang indah.. ♥

princessdhiella:

Hidup bagaikan roda yang terus berputar.. Berbagai peristiwa datang silih berganti.. Saat ini kau tersenyum, 30 menit lagi mungkin kau akan menangis.. Saat ini kau bahagia, 1 jam lagi mungkin kau akan kecewa.. Saat ini kau memiliki hal-hal terindah dalam hidupmu, 12 jam lagi mungkin kau akan kehilangan hal-hal terindah itu.. Saat ini kau merasa dihargai, esok mungkin kau akan dicaci maki.. Saat ini semua orang menyayangimu, dengan berlalu nya hari mungkin saja mereka perlahan-lahan meninggalkan dan membencimu..
Terkadang kita semua berpikir dunia ini akan segera berakhir saat kita berada di saat-saat terberat dalam hidup.. Saat kau terjatuh, bangkitlah.. Akan ada tangan-tangan yang kan terulur dan menarikmu agar kau bisa berdiri kembali.. Tegakkan kepalamu, lihatlah ke depan.. Kita diberi mata untuk melihat ke depan, bukan ke belakang..

Kau takkan bisa merasa begitu bahagia bila kau tak pernah berduka..
Sadarkah kau begitu banyak hikmah, kebaikan dan kebahagiaan dari setiap hal yang kau sesali yang harus kau syukuri? Memang hidup selalu penuh misteri.. Setiap cerita selalu punya arti.. Bagai sebuah teka teki kita hanya ditinggalkan dengan berbagai pertanyaan.. Harus memahami dan menemukan jawabannya sendiri..
Aku selalu percaya, setelah hujan deras akan selalu ada pelangi.. Hujan membuatmu beku dan merasa kedinginan yang membuatmu mengharapkan kehangatan.. Sehangat air mata yang mengalir di pipimu yang perlahan-lahan kan hilang seiring dengan hujan yang mereda.. Saat itu, kau akan melihat indahnya pelangi yang mengukirkan siluet harapan mu menjadi pasti.. 
Rentangkan tanganmu.. Rasakan aroma tanah yang menyegarkan hati setelah hujan itu.. Tataplah warna-warni pelangi di depan matamu.. Tersenyumlah dan teriakkan isi hatimu.. Perlahan kau akan merasakan kakimu telah cukup kuat berlari dan takkan terjatuh untuk kesekian kalinya.. Percayalah dan tunjukan pada dunia bahwa kelak dengan harapan dan semangatmu, kau tak butuh pelangi lagi untuk menyadari bahwa dunia itu memang indah..

:)))

March 15, 2010
saya ingin mencium hidung seorang ninja. saya ingin berbicara kepada buah dan menakuti monster.

iseng iseng maen di games.co.id nemu game ginian, judulnya fortune teller, dan hasilnya bisa dilihat sendiri oleh mata kepala anda ?aneh bukan ? hahaha

makanan kesukaan : awan hujan (emang ada ?)

keberuntungan anda berkata :saya ingin mencium hidung seorang ninja. saya ingin berbicara kepada buah dan menakuti monster. (wow)

March 15, 2010
Apakah Tuhan yang menciptakan Otak ataukah Otak yang menciptakan Tuhan?

Filsuf Perancis Rene Descrates (1596 -1650) yang mendapatkan julukan sebagai
Penemu Fisalfat Modern berpendapat: “Aku berpikir, maka aku ada”, dalam
bahasa Latin “Cogito ergo sum” atau dalam bahasa Perncis “Je pense donc je
suis”. Berdasarkan kesimpulan tersebut saya juga bisa menyatakan: “Tuhan itu
ada, karena aku berpikir, bahwa Tuhan itu ada”.

Memang pikiran itu hanyalah salah satu aktivitas dari fisik otak, tetapi
cobalah renungkan arti dari kalimat ini: “Aku menetapkan PIKIRANKU untuk
membeli sepeda” (I made up my MIND to buy a bike). Orang tidak akan berkata:
“Aku menetapkan OTAKKU untuk membeli sebuah sepeda” (I made up my BRAIN to
buy a bike). Jadi kesimpulannya pikiran inilah yang mengendalikan otak (mind
over matter) atau secara tidak langsung terbuktikan, bahwa Tuhan itu
sebenarnya adalah hasil ciptaan dari pikiran kita.

Bahkan menurut Dean Hamer (Kepala Struktur Gen di U.S. National Cancer
Institute) dalam bukunya “The God Gene” menyatakan, bahwa ia telah berhasil
menemukan Tuhan di dalam gen manusia atau ranah Tuhan atau saklar Tuhan yang
ada di dalam otak manusia. Jadi ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh
Maththew Alper dalam bukunya “The God Part of the Brain” jadi kita tidak
perlu mencari Tuhan di surga, karena Tuhan itu sebenarnya hanya bersemayan
dan berada di dalam otak kita saja.

Pendapat Hamer ini juga didukung oleh Robert Thurman profesor studi agama
Buddha yang berpendapat bahwa penemuan itu memperkuat salah satu konsep
Buddha yang populer, bahwa manusia itu mewarisi gen spiritualitas dari
inkarnasi kita yang terdahulu.

Menurut Alper dalam bukunya “The God Part of the Brain”, bahwa manusia itu
secara halus telah disetel atau digiring sedemikian rupa untuk berpaling
pada suatu realitas spiritual dan untuk mempercayai kuasa-kuasa yang
melampaui keterbatasan dari realita fisik kita. Hal ini bisa terjadi karena
instink yang diwariskan secara genetika.

Misalnya karena adanya perasaan takut mati sehingga secara alami menimbulkan
sebuah insting bagi keyakinan religius dalam diri manusia perdana. Untuk
mengatasi rasa gelisah dan takut mati inilah otak besar kita mencari jalan
keluar bagaimana caranya agar mampu mempertahankan kehidupan setelah
kematian. Dari situlah awal timbulnya pikiran manusia untuk menciptakan Sang
Tuhan.

Disamping itu, karena adanya rasa takut inilah juga yang telah menimbulkan
kepercayaan dalam seperangkat mekanisme di dalam otak manusia, sehingga kita
yakin dan tanggap akan adanya doa kesembuhan, sehingga akhirnya menimbulkan
plasebo efek bagi sang pasien.

Mungkin sudah tiba saatnya dimana para ahli memperdalam dan mempelajari
mengenai disiplin ilmu anyar – suatu teologi genetika (Genotheology) yang
baru untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut diatas.

Majalah Time dalam edisi Jumat Agung (8 April 1966) memuat artikel dengan
judul “Is God Dead?” dimana mereka memprediksikan, bahwa agama akhirnya akan
mati dibunuh oleh Sains.

Bagaimana pendapat Anda?

indonesia-community-subscribe@yahoogroups.com

Liked posts on Tumblr: More liked posts »